Inilah Hasil Penelitian UNICEF Terkait Keamanan Anak-anak di Dunia Daring | Pontianak Satu

Inilah Hasil Penelitian UNICEF Terkait Keamanan Anak-anak di Dunia Daring

Remaja di KTT Anak-anak Asia/Asia Children’s Summit (Foto-UNICEF/2019/Anirban Mahapatra)
KALBAR SATU - 9 dari 10 anak muda di Indonesia menggunakan media sosial. Laporan baru UNICEF yang didasarkan pada diskusi kelompok terpumpun dengan anak-anak dan remaja di empat negara Asia Timur mengeksplorasi bagaimana mereka menggunakan media sosial dan bagaimana mereka menjaga keamanan mereka di dunia daring. Jakarta, Rabu (26/03/2020).

Laporan berjudul Our Lives Online: Use of Social Media by Children and Adolescents in East Asia – opportunities, risks and harms (Hidup Kita di Dunia Daring: Penggunaan Media Sosial oleh Anak-anak dan Remaja di Asia Timur - peluang, risiko dan bahaya), dirilis oleh UNICEF bersama Centre for Justice and Crime Prevention (Pusat Keadilan dan Pencegahan Kejahatan), mengumpulkan pandangan dan pengalaman anak-anak berusia 11 hingga 18 tahun di Indonesia, Kamboja, Malaysia, dan Thailand.

Hal ini juga menangkap perspektif anak-anak yang biasanya tidak tercakup dalam jenis studi yaitu keluarga berpenghasilan rendah, anak-anak yang terpinggirkan, anak-anak dengan disabilitas, anak-anak yang hidup di jalanan dan anak-anak pengungsi.

Temuan ini menyoroti beberapa risiko yang dihadapi anak-anak dan remaja online. Dalam kelompok terpumpun, anak laki-laki dan perempuan melaporkan pernah dikirimi dan dimintai foto-foto eksplisit.

Dua dari lima anak dalam kelompok terpumpun melaporkan memiliki pengalaman buruk yang tidak ingin mereka ceritakan kepada siapa pun, dan lebih dari setengahnya mengatakan mereka sudah pernah bertemu dengan orang yang mereka kenal secara online, sebagian besar pertemuan itu didasarkan pada harapan untuk menjalin hubungan romantic.

Juga, anak-anak dan remaja mengatakan bahwa kadang-kadang mereka menerima chat dan friend request dari orang asing, terutama dari orang-orang yang mengaku sebagai perempuan, karena perempuan sering tidak dianggap sebagai orang asing dalam konteks online.

Pada saat yang sama, penelitian menemukan bahwa anak-anak di Asia Timur mengadopsi strategi serupa dengan apa yang dilakukan di seluruh dunia untuk melindungi diri mereka sendiri secara online: yaitu membuat akun dan profil mereka menjadi private dan memblokir kiriman pesan dan gambar yang tidak diminta (unsolicited) dari orang asing yang membuat mereka merasa tidak nyaman.

Media sosial memberi anak-anak peluang besar, tetapi juga memaparkan mereka pada risiko dan risikonya semakin besar. Menolak akses mereka ke media sosial bukanlah jawaban untuk melindungi anak-anak dari risiko dan bahaya.

"Kita perlu memahami risiko yang dihadapi anak-anak saat online, bagaimana mereka menggunakan media sosial, bagaimana mereka memahami risiko yang mereka hadapi dan langkah apa, jika ada, yang mereka ambil untuk melindungi diri mereka sendiri," kata Karin Hulshof, Direktur Regional, UNICEF Asia Timur dan Pasifik, dalam rilis diterima oleh KALBARSATU.ID.

"Saya yakin laporan ini akan berkontribusi dalam membentuk diskusi dan pemrograman perlindungan anak online di kawasan ini dan untuk menjaga keamanan anak-anak,” imbuhnya.

Temuan laporan ini sangat penting dalam memastikan bahwa intervensi dirancang untuk anak-anak dan remaja, serta memberikan sejumlah usulan rekomendasi untuk keluarga, sekolah, komunitas dan penyedia layanan.

Meningkatkan dukungan untuk pengasuhan digital, dan pengasuhan dalam era digital: pengasuhan digital harus diintegrasikan ke dalam program pengasuhan berbasis bukti dan harus mempertimbangkan perbedaan tingkat literasi digital antara pengasuh perempuan dan laki-laki, serta perbedaan tingkat akses ke teknologi.

Menumbuhkan ketangguhan online dan offline pada anak-anak: Anak-anak yang tangguh, mereka yang dilengkapi dengan keterampilan di bidang-bidang seperti komunikasi, resolusi konflik, dan efikasi diri, lebih cenderung membuat pilihan yang tepat ketika menggunakan media sosial, lebih siap untuk mengelola konflik yang mereka temui di platform mereka gunakan dan mengambil langkah-langkah yang lebih baik untuk menjaga diri mereka tetap aman secara daring.

Pastikan bahwa pengiriman pesan dan tanggapan oleh guru dan orang dewasa didasarkan pada bukti pola penggunaan, dan apa yang berhasil: Penekanan yang lebih besar harus diberikan pada pendekatan berbasis bukti di sekolah, dan di rumah, yang membekali anak-anak dengan keterampilan yang diperlukan untuk menjaga diri mereka agar aman secara online, untuk mempromosikan keterampilan pengambilan keputusan yang tepat dan positif, dan mendukung peluang yang hadir melalui peningkatan keterampilan digital.

Tiga langkah untuk perusahaan teknologi: Perusahaan teknologi harus menyediakan setting otomatis (default) yang menjadikan profil private; saat ini opsi default untuk kontak baru yang paling umum adalah semua orang ini dapat diubah menjadi teman dari teman dan akhirnya, aplikasi media sosial dapat dengan mudah dirancang untuk memblokir foto yang dikirim oleh orang-orang di luar daftar kontak. (*)

TerPopuler