Apa Saja Yang Harus Berubah Di Era Revolusi Industri 4.0 | Pontianak Satu

Apa Saja Yang Harus Berubah Di Era Revolusi Industri 4.0

Revolusi Industri 4.0
Foto: Revolusi Industri 4.0
PONTIANAK SATU - Ketika kita berbicara tentang Revolusi Industri 4.0 terlebih dahulu kita harus mengetahui Revolusi Industri sebelumnya.

Tahun 1764 periode pertama Revolusi Industri yang ditandai penemuan mesin uap dan pada saat itu industri terutama di Inggris jauh lebih efisien dan skalanya jauh lebih masif.

Ini juga merevolusi proses produksi bukan hanya di Inggris akan tetapi melebar juga ke negara-negara eropa sehingga sekarang Inggris dan mayoritas negara negara eropa tersebut menjadi negara maju, karena mereka merupakan yang pertama kali menggunakan secara masif penggunaan mesin uap yang menjadi titik awal industri dunia.

Tahun 1870 Revolusi Industri 2.0 revolusi industri ini terjadi karena ada penemuan baru yaitu cahaya (listrik). Dengan penemuan cahaya listrik ini membuat berbeda dengan revolusi industri sebelumnya.

Pada periode ini juga proses industri lebih efisien dan efektif dengan skala yang jauh lebih masif. Adam smith sebagai bapak ekonomi pada revolusi 2.0 mengeluarkan teori spesialisasi produsksi yang terilhami oleh proses revolusi industri 2.0 yang jauh lebih masif dan efisien dibandingkan periode sebelumnya.

Tahun 1969 penggunaan komputer yang diawali oleh Amerika menjadi periode baru bagi revolusi industri yaitu revolusi industri 3.0 ditandai dengan penggunaan komputer dan teknologi-teknologi yang jauh lebih canggih dibanding dengan periode sebelumnya dan sekaligus merevolusi industri dunia secara keseluruhan.

Dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama, tidak sampai 100 tahun, pada tahun 2016 di Word Ekonomi Forum mentasbihkan bahwa tahun 2016 sebagai revolusi industri 4.0.

Revolusi industri 4.0 merupakan sebuah pengembangan lebih lanjut dari revolusi industri 3.0 teknologi komputer akan tetapi menggunakan hightec yaitu penggunaan teknologi digital.

Di sini kita bisa melihat perkebangan e-commerce dan sosial media di tahun 2014 tren e-commerce dan media sosial dunia mencapai 2 triliun USD tapi perkiraan di tahun 2020 bisa mencapai 7 triliun USD, artinya berkembang beberapa kali lipat dari awal e-commerce itu diperkenalkan.

Dibandingkang dengan e-commerce dan media sosial ada satu tren lagi yang sebenarnya jauh lebih masif dan jauh lebih besar dampaknya yaitu Internet of Things di tahun 2014 mencapai 2 triliun USD, tahun 2020 akan mencapai 14 Triliun USD dan ini cendrung under-estimasi dibandingkan yang seharusnya lebih besar dari itu.

Intinya sebuah konsep revolusi merupakan inovasi untuk menggantikan yang lama, dengan kata lain inkamben pengelola industri yang lama harus beradaptasi dengan perubahan industri pendatang-pendatang baru Dalam revolusi indutri 4.0 segala sesuatunya pasti berubah.

Kita bisa melihat penggunaan secara masif e-commerce, Internet of Things atau kita bisa lihat juga toko tanpa kasir. Ini semua merupakan indikator -indikator baru yang sebelumnya belum kita saksikan.

Dalam debat antara dua pesohor dunia Mark Zuckerberg dan Elon Musk mereka mengomentari sebuah hal yang sangat krusial Artificial Intelegence (AI), menurut Elon Mask Artificial Intelegence merupakan sebuah hal yang akan menggantikan kemanusiaan harus di stop, maka dalam perusahaan yang sebelumnya mengembangkan Artificial Intelegence harus dihentikan karena ketakutan pada akhirnya artificial intelegence akan menggantikan fungsi kemanusiaan.

Sedangkan Mark Zuckerberg mengatakan yang paling penting man behind the gun orang yang menggunakannya dan pada akhirnya humanity tidak akan pernah bisa digantikan oleh apapun entah itu artificial intelegence entah itu hal yang lain.

Apa saja yang haru dilakukan dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0

Industri yang sangat berpengaruh terhadap revolusi indusri 4.0 ini adalah teknoligi digital.

Akan tetapi bahawa teknologi hanyalah supporting system pada keseluruhan industri diantaranya industri manufaktur, industri pariwisata maka hasil dari revolusi industri ini menghasilkan industri yang lebih efisien:

1. Tenaga Kerja

Bahwa dalam perannya tenaga kerja akan sangat minimal karena semuanya bergantung pada teknologi.

Mulai tahun 2020 samapai dengan tahun 2035 Indonesia akan mendapatkan bonus demografi puncaknya di tahun 2030.

Bonus demografi seperti dua mata pisau apabila kita bisa memetik bonus demografi tersebut akan menjadi peluang apabila kita tidak bisa memetinya kita akan menjadi negara midle income trap yaitu negara yang terjebak dan susah untuk berkembang.

Bekenaan dengan tenaga kerja Indonesia sebagian besar tenaga kerja kita pada level informal, sebagian besar tenaga kerja kita berada pada level SMA kebawah ini sangat terbatas kemampuannya.

Namun dalam upaya melangkah kearah industri 4.0 yang harus dilakukan di antaranya :
  • Dalam bidang pertanian kita bisa memberdayakan terhadap lulusan lulusan pendidikan yang rendah. Mereka bisa menjadi streat centris yang memformulasikan membuat campuran ideal pupuk organik.
  • Dalam bidang transportasi dengan hadirnya trasnportasi berbasis online seperti Gojek dan uber tentunya mengalami tantangan yang sangat besar karena pelaku-pelaku lama (inkamben) merasa terganggu dengan pelaku-pelaku yang baru (new entern), tetapi sebagaimana kita ketahui sekarang sebut saja taksi konvensional sudah banyak yang berkolaborasi dengan online transportastion.
  • Pemberdayaan pemuda, pemberdayaan perempuan dan penghapusan tenaga kerja anak

2. Pendidikan

Dalam bidang pendidikan yang harus dibenahi adalah kurikulum, bahwa kurikulum pendidikan indonesia tercerabut dari kepentingan industri jauh dari harapan yang seharusnya ketika lulus langsung kompetible dengan kebutuhan industri seperti di Negara Jepang, Taiwan yang mana kebutuhan industri terkoneksi dengan sistem pendidikan.

Pada akhirnya untuk mempersiapkan Revolusi Industri 4.0 ini adalah adanya kerjasama antara Pemerintah, Universitas, Pelaku Bisnis dan Komunitas.

Etika di Era Revolusi Industri 4.0

1. Sadar Data

Perkembangan teknologi saat ini merupakan dasar untuk mengembangkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kemajuan suatu negara didasarkan atas seberapa jauh ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai oleh negara tersebut.

Hal ini sangat beralasan dikarenakan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dasar dari setiap aspek kehidupan manusia.

Bangsa Indonesia merupakan salah satu bangsa yang hidup dalam lingkungan global, maka mau tidak mau juga harus terlibat dalam maju mundurnya penguasaan teknologi dan ilmu pengetahuan, khususnya untuk kepentingan bangsa sendiri.

Sebagai negara yang masih berkembang, Indonesia dianggap belum terlalu maju dalam penguasaan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

2. Integrated System Thingking

Revolusi Industri 4.0 merupakan fenomena yang mengkolaborasikan teknologi cyber dan teknologi otomatisasi.

Konsep penerapannya berpusat pada konsep otomatisasi yang dilakukan oleh teknologi tanpa memerlukan tenaga kerja manusia dalam proses pengaplikasiannya.

Hal tersebut tentunya menambah nilai efisiensi pada suatu lingkungan kerja di mana manajemen waktu dianggap sebagai sesuatu yang vital dan sangat dibutuhkan oleh para pemain industri.

Selain itu, manajemen waktu yang baik secara eksponensial akan berdampak pada kualitas tenaga kerja dan biaya produksi.

Contoh konkrit yang dapat diambil dari pemanfaatan teknologi pada bidang industri adalah proses pembukuan dan produksi yang kini sudah dapat dengan mudah diakses oleh siapa saja dan kapan saja.

Terlepas dari peran teknologi dalam bidang industri, manfaatnya juga bisa didapatkan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Saat ini, pengambilan dan pertukaran informasi dapat dengan mudah dilakukan kapan saja dan di mana saja melalui jaringan internet.

3. Collaboration dan Sinergi

Pada akhirnya untuk mempersiapkan Revolusi Industri 4.0 ini adalah adanya kerjasama antara Pemerintah, Universitas, Pelaku Bisnis dan Komunitas.

4. Terus Memproduksi Hidup Bahagia

Dalam menyikapi perkembangan teknologi itu sendiri, semuanya tergantung dari pribadi kita masing-masing. Karena teknologi informasi dan komunikasi itu memiliki warna dasar putih.

Tergantung dari penggunanya, apakah kita ingin membelokkannya ke kiri dengan mengubah warna putih menjadi kehitaman yang melambangkan sisi negatif teknologi tersebut atau kita ingin membelokkannya ke kanan dengan mengubah warna putih menjadi keemasan yangmelambangkan sisi positif dari teknologi informasi dan komunikasi itu sendiri.

5. Memberi Makna Hidup

Dengan berbagi (mencerakhan dan memberdayakan).

*Penulis : Nugraha

TerPopuler