100 Hari Kerja Jokowi - Ma'ruf, HMI Pontianak Kecewa Pembentukan Kabinet | Pontianak Satu

100 Hari Kerja Jokowi - Ma'ruf, HMI Pontianak Kecewa Pembentukan Kabinet

Foto: HMI (Himpunan Mahasiwa Islam Indonesia).
PONTIANAK SATU - Hakiki, Ketua Himpunan Mahasiwa Islam (HMI) Cabang Pontianak berbicara soal 100 hari pemerintahan Ir. Joko Widodo dan Prof. KH. Ma'ruf Amin menyebutkan kekecewaan terhadap pembentukan kabinet pemerintahan Jokowi - Ma,ruf Amin.

"Mungkin kalau seandainya membahas 100 kinerja Jokowi saya sedikit kecewa, namun  saya tidak bahas kinerja dulu. Pertama saya akan bahas tentang pembentukan postur tubuh kabinet pemerintahan Jokowi," kata Hakiki ketua HMI Cabang Pontianak, Kamis (30/01/2020).

Ia menuturkan soal postur pembentukan kabinet pemerintahan Jokowi-Ma,ruf Amin.

"Kita ketahui presiden pernah berstatement bahwa pembentukan kabinet itu 45% dari partai 55% profesional," tuturnya.

Lebih lanjut ia mempertanyakan profesionalitas yang dimaksud Jokowi dalam pembetukan kabinet pada pemerintannya.

"Yang ingin saya tanyakan letak profesionalnya dari mana?," tanyanya.

Hakiki yang baru terpilih sebagai Ketua HMI Cabang Pontianak itu menjelaskan.

"Oke, kita seakarang buka-bukaan saja terkait postur tubuh kabinet Jokowi seperti Erick Thohir, Nadiem Makarim dan Wisnutama. Mereka memang termasuk dari kalangan profesional, namun publik sudah mengetahui khususnya ErickThohir, ia memang bukan orang partai tapi ketua TKN pemenangan Jokowi pada saat pemilu," jelasnya.

Begitu juga dengan Wisnutama yang yang dikabarkan menyumbang dana untuk ongkos kampanye Jokowi, sementara Nadiem Makarim mungkin juga sudah tidak asing kenapa alasan diberikan jatah menteri?.

Karena beliau dekat dengan PDIP dan bahkan infonya hampir menjadi kader PDIP, sehingga wajar ketiganya mendapatkan kursi empuk di Kementerian.

"Jadi kalau memang mereka ini dikatakan profesional, profesional dari mananya? Wong mereka orang dekatnya pak Jokowi semua,” ungkap Hakiki.

Saat ditanya soal 100 hari kerja pemerintahan Jokowi-Ma,ruf Amin, Hakiki kemudian memulai perkataannya dengan mengutip komentar salah satu pengamat politik yang mengatakan bahwa wakil presiden hanya jago kandang.

“Terkait 100 hari kinerja Jokowi-Ma,ruf sudah banyak juga pendapat dari kalangan pengamat politik seperti Sirajudin Abbas yang mengatakan pak Ma'ruf dibilang hanya jago kandang, alasannya kurang berani pada pertemuan OKI (Organisasi Kerjasama Islam, Red), wajar saja pengamat politik itu menyampaikan demikian terlebih pada 100 hari kerja pemerintannya belum ada gebrakan subtansial yang berpihak kepada rakyat," imbuhnya.

Dirinya lebih lanjut menyesalkan beberapa pernyataan wakil presiden "Cuman yang paling membuat saya menyesal ketika mendengar peranyataan KH. Maruf Amin yang menegaskan bahwa pemekaran daerah hanya berlaku di Papua,” sesalnya.

Selain itu, ia juga menyinggung dan mengaitkan persoalan tersebut dengan beberapa hubungan beberapa negara yang kurang baik dan memanas.

“Sementara konflik antara Iran VS Amerika dan Indonesia VS china kayaknya diam diam saja, dan anehnya kalau masalah didalamya negeri menggunakan bahasa yang sangat tegas, tapi dengan negara lain misalnya cina kurang tegas apalagi jika dilihat dari ekspresi wajahnya, dan sangat beda ketika berbicara dengan rakyat sendiri,” tandasnya. (Zb)

TerPopuler