Refleksi Akhir Tahun 2019: Teladani Keberagaman Lewat Pemikiran Gusdur | Pontianak Satu

Refleksi Akhir Tahun 2019: Teladani Keberagaman Lewat Pemikiran Gusdur

Foto: Kolase image Khotib* (kiri) dan Gusdur
PONTIANAK SATU - Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gusdur lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940. Beliau tokoh muslim dan pernah menjadi Presiden Republik Indonesia ke 4 (empat).

Sejarah atau biografinya dengan terang-benderang menerangkan perjalanan hidupnya yang penuh dengan pelaksanaan kata-kata mulai dari mengajar di pesantren, mengurus dan merawat NU hingga menjadi politisi dan Presiden.

Dalam menghadapi momentum Natal, Tahun Baru, dan Pilkada serentak 2020, perlunya kita sebagai bangsa Indonesia untuk bersatu menempatkan kepentingan bangsa menjadi nomor satu, dengan memahami esensi kehidupan yang tahun ke tahunnya digandrungi penting-kepentingan yang dapat menggores keberagaman dalam perbedaan.

Seharusnya kita peka sebagai makhluk sosial dalam bahu-membahu menjaga perdamaian dan kesatuan yang telah dipikirkan oleh Gusdur atas ajaran Islam yang dipelajarinya.

Di era dunia global ini kita tidak dapat menghindari keberagaman dalam hidup bersama, kebencian antar kelompok akan membawa kehancuran dan harus diatasi dengan membangun jembatan-jembatan persaudaraan, dengan terus memupuk kepercayaan dan toleransi sesama, selalu ada ruang hidup bersama dalam persatuan dan kedamaian, sehingga dapat menjaga kepentingan kerukunan umat beragama.

Satu contoh upaya Gusdur membongkar tembok diskriminasi atau membedakan adalah mengenal soal kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan keyakinannya.

Di era Gusdur jumlah agama yang bertambah menjadi enam yakni masuknya Konghucu. Sebelumnya hanya lima agama yang diakui oleh Negara.

Bukan hanya itu saja, Gusdur juga membebaskan masyarakat Konghucu menjalankan ibadah sesuai agamanya dan merayakan secara terbuka.

Cara semacam itu merupakan aktualisasi kemanusiaan dalam peningkatan mengenal keberagaman. Karena pada dasarnya, prinsil Gusdur yang ternilai adalah ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pemebebasan, persaudaraan, serta kesederhanaan, sikap satria, dan kearifan tradisi.

Menurut Gusdur kewajiban setiap muslim adalah mewujudkan negara damai (darul sulh) bukan negara Islam (darul Islam).

Sebuah negara republik Indonesia yang di dalamnya beragam suku dan agama harus junjung kedamaian, keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap martabat kemanusian.

Di dalam perdamaian tidak bisa salah satu pihak mengatakan saya yang menang karena saya mayoritas. Harus ada keadilan.

Kesadaran ini tidak bisa datang secara otomatis, tapi harus diajarkan dan dipraktekkan mulai dari dalam keluarga.

Pada konsep keadilan dan perdamaian ini perlunya Islam yang Rahmatal lilalamin yang kehadirannya di tengah kehidupan masyarakat mampu mewujudkan kedamaian dan kasih sayang bagi manusia maupun alam.

Sebagaimana firman Allah SWT. Dalam (Surah Al-Anbiya’ ayat 107) yang artinya sebagai berikut :
"Dan tiadalah kami mengutuskamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam (rahmatallil’alalamin)".

Ayat tersebut menegaskan bahwa kalau Islam dilakukan secara benar dengan sendirinya akan mendatangkan rahmat, baik itu untuk orang Islam maupun untuk seluruh alam.

Cara-cara semacam inilah yang dikenalkan Gusdur kepada bangsa yang memiliki keberagaman suku, etnis, budaya, bahasa, dan agama.

Dengan tidak melupakan Islam Rahmatal lil’alamin dengan penuh kedamaian, menghormati perbedaan, menjunjung tinggi keadilan, dan menghargai kemanusian.

Ialah di antara cara bearagama dari seorang Gusdur dalam membumikan ajaran-ajaran Islam untuk umat dan bangsa.

Penulis : Khotib (Mahasiswa Fisip Untan)

TerPopuler