Catatan Kongres GMNI, Idealisme Hanya Wacana, Intimidasi Jadi Panglima | Pontianak Satu

Catatan Kongres GMNI, Idealisme Hanya Wacana, Intimidasi Jadi Panglima

Foto: Victoria Febby Fuban*
PONTIANAK SATU - Kongres Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI) XXI di Ambon menyisakan rasa pilu membiru di alam pikiran. Bagaimana tidak memunculkan kepilauan?

Tatkala ekspektasi dari daerah bahwa kongres akan menjadi sarana bagi GMNI yang berada di daerah untuk beradu gagasan, ide, konsep, implementasi, dasar hukum, sampai strategi dan taktik GMNI selama satu periode kedepan, tetapi berakhir dengan rasa kecewa yang mematri di dalam jiwa.

Bagi Saya, yang berasal dari daerah di pedalaman Pulau Borneo, Kongres adalah forum tertinggi dalam organisasi GMNI.

Bahkan Kongres sudah termaktubkan di dalam landasan hukum GMNI yaitu Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga sebagai forum tertinggi di dalam organisasi.

Sedari awal, Saya bersama teman-teman daerah sudah memiliki ekspektasi yang terlampau tinggi.

Diskusi-diskusi dilakukan mulai dari Rapat Koordinasi Cabang (Rakorcab) yang mengundang seluruh Dewan Pengurus Komisariat (DPK) untuk mengakomodir semua gagasan dari bawah.

Dari Rakorcab ini kemudian menghasilkan berbagai macam gagasan demi kebaikan GMNI dengan skala nasional.

Menginjak beberapa waktu sebelum pelaksanaan Kongres, Saya bersama dua orang delegasi dari DPC GMNI Sintang diminta untuk berangkat menuju Wisma trisakti, Jakarta guna melakukan resgistrasi awal.

Perjalanan dimulai dengan pemberangkatan jalur darat dari Sintang menuju Pontianak selama 7 Jam. Dari pontianak menuju Jakarta menggunakan Pesawat Terbang.

Di Jakarta hanya sebentar saja tidak sampai satu hari, hanya melakukan registrasi awal yang berada di Wisma Trisakti (Sektretariat DPP GMNI), sebelum akhirnya terbang kembali bersama sekitar 60an kawan-kawan dari berbagai daerah menuju lokasi kongres di Ambon, Maluku.

Ambon, menjadi kota pertama yang Saya kunjungi di Indonesia bagian timur. Kota yang menjadi penanda, bahwa perdamaian diatas segalanya.

Perdamaian yang dibalut dengan rasa persatuan dan kesatuan yang pernah menyatukan masyarakat kota Ambon dari konfil horisontal yang pernah terjadi di Kota ini selama periode awal 2000-an.

Ingatan lama mengenai Kota Ambon, menjadi salah satu dasar bagi Saya untuk melihat kongres yang akan dihelat di kota ini juga penuh kedamaian dan kekeluargaan.

Apalagi GMNI juga dikenal sebagai organisasi kebangsaan yang mengutamakan persatuan dan kesatuan, serta akal sehat dalam menghasilkan keputusan besar.

Kongres di Ambon sendiri mengusung tema “Mempertegas Posisi Kedaulatan Maritim Indonesia Demi Kepentingan Nasional Berbasis Kepulauan Berdasarkan Pancasila” yang dimulai pada tanggal 28 November 2019.

Kongres ini sendiri dibuka oleh Menteri Sosial, Juliari Batubara, yang juga didampingi oleh Ketua Persatuan Alumni (PA) GMNI Mas Ahmad Basarah.

Pembukaan kongres yang diwarnai dengan pesan Menteri Sosial agar GMNI juga tanggap dan responsif terhadap pengentasan kemiskinan. Sementara Mas Ahmad Basarah yang melakukan Orasi Kebangsaan mengharapkan kepada kongres GMNI untuk merumuskan strategi perjuangannya agar GMNI dapat menjadi perekat bangsa dengan membumikan pancasila dan sasanti Bhineka Tunggal Ika sebagai ideologi dan prinsip berbangsa serta bernegara yang menjadi living ideology.

Aroma kehangatan, serta perlunya idealisme yang di wacanakan pada pembukaan kongres oleh para tokoh nasional, membuat rasa optimis bahwa kongres juga akan berujung pada dinamika yang beretika kian membumbung tinggi. Dimulainya registrasi kongres menjadi pertanda jika kongres GMNI XXI akan segera dimulai.

Dinamika terjadi selama proses registrasi, sudah mulai terjadi gesekan diantara peserta dengan panitia yang ingin saling mendahului guna segera mungkin masuk di arena kongres. Saya mulai menyadari dan sedikit was-was dengan kondisi kongres yang sejak awal registrasi sudah mulai panas. Ibarat kata, belum peregangan untuk pemanasan, tetapi sudah dibuat senam jantung.

Asumsi yang berujung menjadi kenyataan akhirnya terjadi. Dinamika yang terjadi di dalam kongres sudah tidak menggunakan etika sebagai panglimanya, melainkan bergeser menjadi intimidasi sebagai panglimanya. Idealisme yang kerapkali menjadi jargon mahasiswa, seperti mengutip apa yang dikatakan Tan Malaka, “Kemewahan terakhir mahasiswa adalah idealisme”, mulai hilang ditelan arus kepentingan.

Pada akhirnya, yang terjadi adalah intimidasi sebagai panglima dalam memenangkan kepentingan tersebut.

Hal itu, Saya alami sendiri, pengalaman empirik yang akan membekas dalam memori ingatan Saya sepanjang hayat.

Bagaimana beberapa peserta kongres mendapatkan intimidasi oleh panitia kongres dan oknum-oknum di dalamnya.

Bahkan hal ini diperparah dengan baku hantam yang terjadi antara peserta dengan panitia, lantaran peserta yang berada di dalam arena kongres dikurung sampai tidak diperbolehkan keluar arena kongres.

Proses pengurungan ini terjadi pada Minggu, 1 Desember 2019 pukul 22.00 WIT sampai 04.00 WIT.

Peserta yang mencoba menggugat karena argumentasi panitia tidak ada dasarnya untuk mengurung peserta kongres di dalam ruangan, berdampak pada suasana kongres yang memanas.

Dampaknya beberapa kawan Saya mendapatkan pemukulan oleh peserta dan oknum-oknum di dalamnya.

Pukulan yang mengenai pelipis mata peserta kongres asal Banjarmasin ini, bisa menjadi pengingat bagi kita semua, jika kongres GMNI di Ambon intimidasi menjadi panglimanya.

Tidak hanya itu, peserta kongres, termasuk Saya, yang notabennya sebagai seorang Sarinah juga terkena dorongan.

Hati nurani yang tidak dipakai oleh oknum-oknum tersebut untuk melakukan tekanan kepada peserta kongres agar menuruti kepentingan mereka.

Paska adanya insiden tersebut, hati yang mulai berkecambuk, pikiran yang sudah kalang kabut lantaran ekspektasi sebelum kongres dengan realita saat kongres bertolak belakang.

Ekspektasi sebelum kongres adalah tentang adu gagasan dari GMNI se-Indonesia, namun yang terjadi adalah intimidasi yang dilakukan oleh kelompok yang ingin menancapkan hegemoninya selama beberapa tahun kebelakang.

Insiden intimidasi yang juga terjadinya pemukulan kepada beberapa peserta kongres membuat Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal DPP GMNI periode 2017-2019 beserta jajarannya memutuskan memindahkan tempat kongres dari Kristiani Center menuju Hotel Amaris demi kemanan peserta dan keberlangsungan kongres GMNI XXI Ambon.

Keputusan yang membuat kawan-kawan merasa mendapatkan jaminan keamanan ketika melanjutkan kongres di Hotel Amaris.

Pada akhirnya lanjutan Kongres GMNI XXI di Ambon, menghasilkan kepemimpinan baru yaitu Bung Arjuna Putra Aldino sebagai Ketua Umum dan M Ageng Dendy Setiawan sebagai Sektretaris Jenderal DPP GMNI satu periode kedepan. Kepemimpinan ini yang akan menjadi nahkoda GMNI menuju zaman baru.

Kepada dua sosok ini yang terpilih menjadi nahkoda baru ini harapan besar ada di pundaknya. Dimana persatuan dan kesatuan menjadi dasar segalanya.

Idealisme yang ada di GMNI perlu ditegakkan kembali, jangan sampai hanya karena adanya satu atau dua orang yang akan menancapkan pengaruhnya di GMNI, membuat organisasi ini menjadi kerdil seperti sebelum-sebelumnya.

Maka dari itu, Saya percaya akan ada terang di dalam kegelapan, ada harapan baru menuju zaman baru untuk membumikan pancasila di seluruh penjuru Indonesia.

*Penulis: Victoria Febby Fuban (ketua bidang sarinah GMNI cabang Sintang, Peserta Kongres GMNI XXI)

TerPopuler