Pengamat Kebijakan Pemerintah, Paparkan Sebab Banjir di Kota Pontianak | Pontianak Satu

Pengamat Kebijakan Pemerintah, Paparkan Sebab Banjir di Kota Pontianak

Selasa, 26 November 2019, 13.43
Foto: Herman Hofi Munawar, Pengamat Kebijakan Pemerintah dan Mantan Anggota DPRD Kota Pontianak, - (Image/Tribun Pontianak)
PONTIANAK SATU - Beberapa hari terakhir Pontianak ramai pembicaraan tentang banjir uang melanda sebagian kawasan Kota Khatulistiwa ini.

Dihimpun liputan Tribun Pontianak, persoalan banjir atau genangan yang melanda menurut pengamat kebijakan pemerintah serta mantan Anggota DPRD Kota Pontianak, Herman Hofi Munawar tidak bisa dipandang remeh.

Ia menegaskan banjir yang melanda Kota Pontianak akibat diguyur hujan sekitar dua jam banyak kawasan khususnya Pontianak Kota, Selatan dan Tenggara yang terendam.

"Banjir di Kota Pontianak patut di cermati secara serius. Jika kita perhatikan volume semakin bertambah, baik dari sisi sebaran wilayah terkena banjir, maupun ketinggian air dan lamanya air turun," kata Herman Hofi Munawar saat diwawancarai, Selasa (26/11/2019).

Ia melihat terjadinya perubahan diatas bisa jadi disebabkan beberapa faktor, antara lain adanya penambahan volume air laut akibat pemanasan global.

Sehingga adanya gejala pencairan es di Kutup Utara dan Selatan sehingga volume air laut semakin bertambah dari tahun ketahun.

Kemudian, menurutnya ada kecendrungan tanah di Kota Pontianak ini menurun karena kontur tanah yang lembut dan bergambut.

Selain itu, faktor lainnya adalah semakin banyak bangunan gedung menjadi beban tanah untuk menahan bangunan, sementara tanah tidak memiliki penahan seperti bebatuan.

"Faktor lain adalah resapan air di Kota Pontianak dari tahun ke tahun semakin berkurang, karena regulasi yang mengatur persentasi bangunan rumah atau gedung harus memiliki resapan air tidak di indahkan," ujarnya.

Dijelaskannya secara rinci ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Pontianak sebagau berikut, publik 20 persen dan privat 10 persen belum tercapai dan tidakk akan tercapai sebab kondisi lahan yang belum terbangun tinggal 21 persen.

Kondisi banjir yang ada diperparah dengan topografi Pontianak yang plat dan sangat rendah , dekat dengan muara laut.

"Tetapi kondisi seperti itu pemkot tidak boleh menyerah. Pemkot harus melakukan langkah langkah yang strategis dan terukur," jelasnya.

Banjir Paling Parah

Sejumlah ruas jalan di kota Pontianak hingga saat ini masih tergenang air. Seperti yang terpantau di ruas jalan Sutoyo dan Jalan Purnama, Minggu (24/11/2019) sore. Diruas jalan tersebut, air masih menggenangi sekitar 30 cm.

Genangan air tersebut diakibatkan oleh hujan deras yang mengguyur pada Sabtu (23/11/2019) sore selama hampir 3 jam.

Terpantau kendaraan yang melintas memperlambat laju kendaraannya untuk berhati-hati dikarenakan genangan air yang tinggi. 

Stephanus Paiman satu diantara warga Purnama sangat mengesalkan banjir yang rutin terjadi saat hujan deras.

Apalagi kata dia, kali ini banjir yang paling parah yang terjadi di wilayah Purnama. 

"Ini yang paling parah, 19 tahun saya tinggal di Purnama baru kali ini paling parah. Belum pernah air masuk ke tempat tinggal saya meskipun hujan deras, tapi kali ini masuk padahal sudah ditinggikan lantainya," ujar Paiman, penanggung jawab umum FRKP (Forum Relawan Kemanusiaan) Pontianak, Minggu (24/11/2019).

Ia mengatakan, permasalahan banjir ini merupakan penyakit tahunan. Ia juga berharap Pemkot memperhatikan sistem perairan atau drainase, dan juga mengeruk parit yang ada.

"Saya berharap kalau saat musim kemarau parit ini kan bisa dikeruk agar lebih dalam. Jadi kalau hujan seperti ini air dapat mengalir dengan baik, dan tidak menggenangi ruas jalan. Sampai sekarang belum surut-surut airnya," tutup Stephanus Paiman.

TerPopuler