Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan: Lebih Dari 5 Ton Ikan Petani Keramba yang Mati | Pontianak Satu

Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan: Lebih Dari 5 Ton Ikan Petani Keramba yang Mati

Senin, 14 Oktober 2019, 13.36
Foto: Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak, Bintoro.
PONTIANAKSATU.ID - Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak, Bintoro menjelaskan, kematian ribuan ikan keramba tersebut diduga kuat akibat perubahan air Sungai Kapuas dan Sungai Landak.

Menurut data yang dihimpun pihaknya, lebih dari lima ton ikan petani keramba yang mati akibat perubahan kadar air tersebut. Keramba masyarakat tersebar di tiga kecamatan yaitu, Pontianak Utara, Pontianak Timur, dan Pontianak Barat.

"Setelah kita data, lebih dari lima ton ikan milik petani keramba mati. Ada sebagian yang tidak bisa dijual sama sekali karena masih bibit ukuran 5-8 Cm," ujar Bintoro.

Lanjut disampaikannya kematian ikan ini ada tiga tahap, pertama bibit yang ukuran 5-8 cm dan tidak bisa diselamatkan sama sekali oleh petani keramba.

"Mati total dengan jumlah 1,2 ton itukan masih bibit ini tidak bisa diselamatkan. Ini bibit yang baru ditaburkan sekitar satu bulan dan tidak bisa dikonsumsi," lanjut Bintoro.

Selanjutnya tahap kedua ikan yang mati ukuran empat ons, namun masih bisa diselamatkan dengan menjual harga murah.

"Jumlahnya mencapai dua ton lebih dengan harga Rp 16-18 ribu perkilo dijual para petani keramba," kata Bintoro.

Sedangkan ukuran diatas enam ons sudah kebal dan dapat diselamatkan. Harga jualnya juga masih stabil dengan harga diatas Rp25 ribu perkilo.

"Total semua dari jumlah yang mati, mencapai 5 ton dari tiga kecamatan. Sedangkaan yang tidak dijual sama sekali berjulah 1,2 ton karena masih kecil," ujarnya.

Banyaknya ikan di keramba petani mati, menurut Bintoro lantaran adanya perubahan air akibat asimilasi air laut dengan air Sungai Kapuas dan Landak. Hal itu terjadinya setelah kemarau sekitar 1,5 bulan dimana tidak ada hujan bahkan terjadi interupsi air laut.

"Ini yang menjadikan asimilasi air Kapuas maupun Landak sehingga setelah musim hujan datang sungai itu terjadi kejernihan yang luar biasa. Dengan kejadian itu, membuat kehidupan di sungai yang ada mengalami perubahan drastis. Kemudian PH air hanya 4,6-5,2. Sehingga tidak layak untuk kehidipan ikan air tawar," sambung Bintoro.

Adanya penurunan PH dan terjadinya perubahan air ini banyak ikan dikeramba petani mati.

Langkah kedepannya, Bintoro akan menyampaikan laporan pada Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono untuk memberikan bantuan pada petani. Pemerintah Kota Pontianak sendiri mengadakan pemijahan ikan nila dan pihaknya akan berikan subsidi harga bibit.

Subsidi tersebut bisa Rp100-150 rupiah perekor ikan dengan ukuran 4-6 cm. Sehingga petani hanya membayar Rp150 atau Rp200 rupiah perekor.

"Ini solusi yang diberikan oleh Pemkot Pontianak untuk membantu para petani keramba. Jumlah petani di Pontianak Utara 12, Barat ada enam dan Pontianak Timur ada 15 petani," jelas Bintoro.

Setelah dilakukan pendataan, memang tidak semua ikan diremba petani yang mati. Ia bersyukur karena tidak menimbulkan banyak kerugian bagi semua petani keramba.

"Memang tidak semua terkena dampak dan mati dan hari ini kondisi air Kapuas dan Landak sudah normal," tuturnya.

Hal demikian juga disampaikan oleh Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menyampaikan memang dengan adanya perubahan kondisi air Kapuas dan Landak sepekan lalu membuat ikan para petani keramba mati.

"Kemarin memang sempat berubah air Sungai Kapuas itu menjadi sangat bening dan mungkin gas amoniaknya meningkat," ujar Edi Rusdi Kamtono.

Ia mengaku belum mendapatkan laporan dari Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan terkaait masalah ini dan berapa banyak ikan dari para petani keramba yang mati akibat adanya perubahan air tersebut.

Tahun-tahun sebelumnya, Pemkot Pontianak ditegaskannya memang ada bantuan bibit ikan bagi masyarakat. Namun untuk tahun ini, ia menunggu laporan dari pihak Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan.

Kondisi dimana air Sungai Kapuas dan Landak mengalami perubahan disebut Edi Kamtono biasanya terjadi saat pergantian musim.

"Inilah kondisi alam Sungai Kapuas dan Landak sewaktu-waktu berubah. Jadi ini adalah pengaruh alam dan biasanya terjadi di pergantian musim dari kemarau ke hujan," jelasnya.

Budidaya ikan dengan menggunakan keramba memang menjadi solusi bagi para kelompok masyarakat untuk bisnis ikan. Keramba-keramba berjejer di Sungai Kapuas mapun Sungai Landak.

Kejadian ini dimana ikan mengalami kematian ini terjadi secara mendadak, akibat perubahan pada kondisi air. Edi menegaskan akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk upaya berikutnya.

Sumber: Tribun Pontianak

TerPopuler