Ketua Gerindra Kalbar: Perpecahan Terjadi Karena Hukum yang Memihak, Pisaunya Tajam ke blBawah dan Tumpul ke Atas | Pontianak Satu

Ketua Gerindra Kalbar: Perpecahan Terjadi Karena Hukum yang Memihak, Pisaunya Tajam ke blBawah dan Tumpul ke Atas

Jumat, 16 Agustus 2019, 11.46
Ketua Gerindra Kalbar: Perpecahan Terjadi Karena Hukum yang Memihak, Pisaunya Tajam ke blBawah dan Tumpul ke Atas
PONTIANAKSATU.ID - PKC PMII dan PW KAMMI Kalimantan Barat gelar Dialog Kemerdekaan dengan tema Rekonsiliasi Akar Rumput Wujud Dewasa Demokrasi, di Warunk Kampus Jl. Reformasi Kota Pontianak, Kamis (15/08/2019).

Ketua Umum PW KAMMI Kalbar Imron Ramadhan mengatakan acara tersebut sengaja mengangkat tema rekonsiliasi akar rumput wujud dewasa dalam berdemokrasi.

"Mengingat hari ini kita melihat Keterbelahan masyarakat dalam perjalanan Pemilu 2019 cukup menghawatirkan," ujarnya di sela-sela sambutannya.

Untuk itu, lanjut Imron, dalam momentum memperingati hari kemerdekaan ini kami memandang perlu untuk kembali merajut persahabatan.

"Sebagai anak bangsa dan menjadikn proses Pemilu sebagai konstelasi lima tahunan yg wajar, begitupun dgn proses check and balance mengawal pemerintahan yang terpilih.

Senada yang disampaikan oleh Ketua Umum PKC PMII Kalbar, Muammad Kadafi menyampaikan, bahwa kegiatan digagas dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74.

"Kita ketahui bersama sebelum, menjelang dan pasca Pilpres suhu politik di Indonesia semakin meningkat, sehingga perlu adanya rekonsiliasi sampai ke akar rumput, agar masyarakat di bawah kembali seperti semula tidak ada istilah cebong atau kampret," katanya.

Kadafi menambahkan, bahwa secara ideologi PMII dan KAMMI sangat lah berbeda, namun karena menurutnya sebagai anak bangsa harus bisa melaksanakan kegiatan dialog tersebut secara bersama demi generasi penerus bangsa.

"Kita juga berharap para elit memberikan pendidikan politik yang baik terhadap kader, simpatisan serta masyarakat di bawah, karena hakikatnya mereka menjadi contoh oleh masyarakat di bawah, jika elit politik menyampaikan pesan kedamaian masyarakat akan semakin tenang," tambahnya.

Pengamat politik Dr. Jimadi, M.Si mengatalan bahwa tidak ada teman yang abadi dan tidak ada lawan yang abadi. Hanyalah kepentingan yang sifatnya abadi. Sedangkan menurutnya Budaya patronasi tergantung pada elit.

"Tidak ada lawan abadi, tidak ada kawan abadi yang abadi hanya kepentingan yang abadi," paparnya.

Ir. Muhammad Rizal ketua Gerindra Kalbar menyampaikan, bahwa Rekonsiliasi adalah sebuah tindakan untuk memperbaiki hubungan yang terpisah oleh proses politik tahun 2018 yang lalu.

Menurutnya, Perpecahan sebenarnya tidak hanya terjadi karena pemilu saja, akan tetapi terjadi ketimpangan sosial ekonomi masyarakat, hal ini sesuai hasil dari survei SUIS BEN.

Selain itu, lanjut Rizal, perpecahan itu terjadi akibat dari penegakan hukum yang memihak.

"Pisaunya tajam ke bawah dan tumpul ke atas," tandasnya.

Rizal menegaskan, seharusnya Pancasila harus dikedepankan. Bahkan menurutnya, Pancasila bukan hanya dihafal, akan tetapi harus dipraktekkan di pemerintahan maupun masyarakat.

Ia mencontohkan terhadap peristiwa politik pada tahun 2018 yang berimbas pada tahun ini.

Untungnya, sambung Rizal, antara dua kubu Jokowi dan Prabowo punya rasa cinta kepada rakyat Indonesia. Sehingga dari Kubu Jokowi mengundang Prabowo agar melaksanakan pertemuan.

"Maka di situlah terjadilah sebuah rekonsiliasi, agar tidak terjadi seperti negara suriah," tutupnya. (Rokib)

TerPopuler