Dialog Kemerdekaan, PKB KALBAR Gelorakan Tiga Sikap, Tawazun, Tawasuth dan Tasamuh | Pontianak Satu

Dialog Kemerdekaan, PKB KALBAR Gelorakan Tiga Sikap, Tawazun, Tawasuth dan Tasamuh

Jumat, 16 Agustus 2019, 11.55
Dialog Kemerdekaan, PKB KALBAR Gelorakan Tiga Sikap, Tawazun, Tawasuth dan Tasamuh
PONTIANAKSATU.ID - PKC PMII dan PW KAMMI Kalimantan Barat gelar Dialog Kemerdekaan dengan tema Rekonsiliasi Akar Rumput Wujud Dewasa Demokrasi, di Warunk Kampus Jl. Reformasi Kota Pontianak, Kamis (15/08/2019).

Ketua Umum PW KAMMI Kalbar Imron Ramadhan mengatakan acara tersebut sengaja mengangkat tema rekonsiliasi akar rumput wujud dewasa dalam berdemokrasi.

"Mengingat hari ini kita melihat Keterbelahan masyarakat dalam perjalanan Pemilu 2019 cukup menghawatirkan," ujarnya di sela-sela sambutannya.

Untuk itu, lanjut Imron, dalam momentum memperingati hari kemerdekaan ini kami memandang perlu untuk kembali merajut persahabatan.

"Sebagai anak bangsa dan menjadikn proses Pemilu sebagai konstelasi lima tahunan yg wajar, begitupun dgn proses check and balance mengawal pemerintahan yang terpilih.

Senada yang disampaikan oleh Ketua Umum PKC PMII Kalbar, Muammad Kadafi menyampaikan, bahwa kegiatan digagas dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74.

"Kita ketahui bersama sebelum, menjelang dan pasca Pilpres suhu politik di Indonesia semakin meningkat, sehingga perlu adanya rekonsiliasi sampai ke akar rumput, agar masyarakat di bawah kembali seperti semula tidak ada istilah cebong atau kampret," katanya.

Kadafi menambahkan, bahwa secara ideologi PMII dan KAMMI sangat lah berbeda, namun karena menurutnya sebagai anak bangsa harus bisa melaksanakan kegiatan dialog tersebut secara bersama demi generasi penerus bangsa.

"Kita juga berharap para elit memberikan pendidikan politik yang baik terhadap kader, simpatisan serta masyarakat di bawah, karena hakikatnya mereka menjadi contoh oleh masyarakat di bawah, jika elit politik menyampaikan pesan kedamaian masyarakat akan semakin tenang," tambahnya.

Pengamat politik Dr. Jimadi, M.Si mengatalan bahwa tidak ada teman yang abadi dan tidak ada lawan yang abadi. Hanyalah kepentingan yang sifatnya abadi. Sedangkan menurutnya Budaya patronasi tergantung pada elit.

"Tidak ada lawan abadi, tidak ada kawan abadi yang abadi hanya kepentingan yang abadi," paparnya.

Dikesempatan yang sama Pak Heri dari perwakilan DPW PKB Kalbar menerangkan, bahwa Pemilu 2019 merupakan pembelajaran yang baik untuk demokrasi kedepannya. Sebagaimana Indonesia telah berhasil melalui demokrasi tersebut.

"Ada baiknya jika masa kampanye pemilu hanya 3 bulan saja, tidak harus 8 bulan. Seperti sistem pilkada yang dilakasanaan di setiap provinsi ataupun daerah, agar gesekan itu tidak terlalu kuat," terangnya.

Ia mengatakan, bahwa negara Indonesia adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Maka kita selaku elit harus mewujudkan pemilu yang betul-betul bersih dan cerdas. Karena jika kita terjebak pada politik yang salah maka akan memperoleh legislatif yang salah," ujarnya.

Heri menyebutkan, bahwa godaan pada legislatif lebih besar dari pada yudikatif.

"Karena legislatif adalah godaannya besar dari pada yudikatif," imbuhnya.

Maka menurut Heri, perlu adanya tiga sikap yang harus dilakukan yaitu; Pertama, sikap Tawazun(Adil) tetap berlaku adil. Kedua, sikap Tawasuth (Moderat) dalam segala hal, harus berada posisi netral melalui jalan mengkonfirmasi. Ketiga, Sikap Tasamuh (Toleran) harus berbaik hati.

"Ketiga sikap ini harus diterapkan di dalam hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia agar saling mengingatkan. PKB akan terus menggelorakan ketiga sikap tersebut, agar aman, tentram dan damai. Jika tiga sikap ini bisa dilaksanakan, maka Indonesia tidak akan keos," tukasnya. (Rokib)

TerPopuler