Penjelasan Dr. Nadirsyah Hosen Waktu Perayaan Idul Fitri di Setiap Negara Berbeda-beda | Pontianak Satu

Penjelasan Dr. Nadirsyah Hosen Waktu Perayaan Idul Fitri di Setiap Negara Berbeda-beda

Selasa, 04 Juni 2019, 23.14
Foto: Dr. H. Nadirsyah Hosen, LL.M., M.A. (Hons), Ph.D. adalah orang Indonesia yang menjadi dosen tetap di fakultas hukum di University Faculty of Law Australia. 
PONTIANAKSATU.ID - Perayaan Idul Fitri 1440 H di setiap negara berbeda-beda. Misalnya saja untuk di Indonesia, 1 Syawal ditetapkan pada 5 Juni 2019. Namun, untuk Australia, umat muslim di Melbourne sudah merayakan Idul Fitri pada 4 Juni 2019.

Hal itu diungkapkan oleh cendekiawan muslim asal Indonesia, Dr. Nadirsyah Hosen. Pria yang akrab disapa Gus Nadirs itu membagikan momen Lebaran di kota tempat tinggalnya Melbourne.

“Takbiran dan khutbah Idul Fitri di Masjid Emir Sultan, Melbourne pagi ini 4 Juni 2019,” tulis Gus Nadirs dalam akun Twitternya @Na_dirs pada Rabu (04/06/19).

Beberapa negara memang mengalami perbedaan perayaan Idul Fitri 1440 H. Hal tersebut lantaran perbedaan penampakan bulan baru di setiap negara yang selalu berbeda.

Misalnya saja di Inggris, bulan sabit sebagai pertanda hilal diprediksi akan tampak pada Selasa (04/06/19) pukul 11.02 malam waktu setempat. Hal ini berdasarkan pernyataan Badan Nasional Penanggalan Inggris (HMNAO).

Namun, masyarakat yang tinggal di ujung utara Inggris dan Skotlandia kemungkinan perlu menunggu satu hari lagi, untuk menunggu bulan sabit pertama jika tidak dihalangi awan langit.

HMNAO dalam websitenya mengatakan “Penampakan bulan sabit kemungkinan terjadi pada Selasa, 4 Juni untuk sebagian besar dunia kecuali Australia bagian barat laut, Selandia Baru, Melanesia Timur, sebagian besar Mikronesia, Jepang, bagian utara Asia, Eropa utara termasuk bagian utara Inggris,”

Bulan sabit tulis HMNAO kemungkinan akan terlihat secara global pada Rabu, 5 Juni.

Sementara, di Arab Saudi dan negara-negara tetangganya lebih memilih menggunakan kalender Umm al-Qura untuk menentukan 1 Syawal.

Kalender ini berdasarkan perhitungan oleh Institut Penelitian Astronomi & Geofisika Kota King Abdulaziz untuk Sains dan Teknologi (KACST) di Riyadh.

Tahun ini, kalender telah menyatakan Idul Fitri jatuh pada Selasa. Namun, beberapa organisasi Islam mengkritisi metode ini dan lebih memilih mengimbau umat Muslim berpedoman kepada pengamatan bulan daripada kalender astronomi.

Namun demikian, Gus Nadirs mengingatkan perbedaan penentuan Idul Fitri tidak boleh jadikan sebagai pemicu perpecahan umat Islam. Sebab perbedaan dalam Islam itu pasti tetap indah.

“Di Australia, Mufti sdh mengumumkan lebaran hari Rabu 5 Juni. Tapi sejumlah imam Masjid berpendapat lebaran hari Selasa 4 Juni. Perbedaan itu indah Di tanah air kemungkinan besar kompak tanggal 05 Juni yah? Persatuan lebih indah yang gak boleh itu memaksa harus seragam,” katanya.

Di Indonesia pemerintah sudah menetapkan menggenapkan bulan Ramadan menjadi 30 hari. Ketetapan ini dikeluarkan setelah bulan sabit tidak terlihat sepanjang 03 Juni 2019 kemarin. Maka Idul Fitri 1440 H akan berlangsung serempak pada 05 Juni 2019.

TerPopuler