Gus Mad Ingatkan Santri Untuk Selamatkan Warga Nahdiyin dari Perilaku Ekstrim | Pontianak Satu

Gus Mad Ingatkan Santri Untuk Selamatkan Warga Nahdiyin dari Perilaku Ekstrim

Sabtu, 22 Juni 2019, 21.06
Foto: Gus Mad (pegang mikrofon) saat menyampaikan tausyiah agama di hadapan para pengurus dan anggota Hisaniyah di kediaman H Satrah
PONTIANAKSATU.ID - Poin penting pesan KH Madarik Yahya atau yang biasa dipanggil Gus Mad itu di hadapan para alumni yang tergabung dalam organisasi Hisaniyah (Himpunan Santri dan Alumni KH Yahya) yaitu terdapat tantangan berat yang menghadang warga NU, utamanya kalangan masyarakat pesantren, di masa-masa mendatang berkaitan regenerasi umat. Hal itu disampaikan di kediaman H Satrah, Jumat (21/06/2019).

Lebih lanjut, sosok yang bernama lengkap Muhammad Madarik Yahya itu mengungkapkan bahwa dua tantangan yang dimaksud adalah pergaulan bebas dan ragam faham aliran-aliran dalam Islam.

“Sebagaimana diketahui, per-hari ini kita diperlihatkan kenyataan-kenyataan persoalan moralitas anak bangsa yang kian merosot. Apalagi kecenderungan anak-anak yang sudah dipengaruhi oleh kemajuan teknologi dalam setiap sisi,” ujarnya dalam acara koordinasi Hisaniyah itu.

Menurut Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur itu, ketergantungan semua orang terhadap gadget (handphone) misalnya, sekarang telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat secara umum.

“Hal ini telah mengubah cara berpikir dan bersikap setiap insan, sekaligus sudah menggerus nilai-nilai yang selama ini diyakini leluhur,” ujar Gus Mad.

“Hal ini telah mengubah cara berpikir dan bersikap setiap insan, sekaligus sudah menggerus nilai-nilai yang selama ini diyakini leluhur,” tambahnya.

Mirisnya, lanjut Direktur Pendidikan PP Raudlatul Ulum 2 Putukrejo Gondanglegi Malang itu, dampak negatif dari kemajuan zaman di bidang teknologi itu tidak pelak lagi dinilai telah menimpa para generasi muslim.

Tantangan kedua, menurut lulusan PP Hidayatul Mubtadi’in Lirboyo Kediri itu ialah faham keagamaan yang membanjiri kehidupan masyarakat Indonesia.

“Cara beragama, baik yang bersifat ekstrim kanan maupun ekstrim kiri, benar-benar telah mewarnai ruang publik. Sehingga orang-orang yang mendewakan liberalisme dan pihak-pihak yang bersikap radikal sudah nyata-nyata menjadi fakta di depan mata kita,” ulasnya.

Bagi dosen IAI (Institute Agama Islam) Al-Qolam Gondanglegi Kabupaten Malang itu, dua perkembangan ini merupakan tantangan berat bagi kaum NU.(*)

TerPopuler